Jumat, 30 Agustus 2013

Dukun Cabul Kelakuannya Mirip Prabu Minakjingga

nah-sub
MENTANG-MENTANG dukun asal bumi Belambangan (Banyuwangi), kelakuan Dirman Sugito jadi mirip Minakjinggo pula. Melihat pasien cantik a la Ratu Kencanawungu, jadi gatel. Dengan dalih ritual dalam salat malam, mahasiswi Mahdiana, 21, digauli di ruang terapi. Sudah barang tentu keluarga tak terima.
Dalam legenda Damarwulan dikisahkan, Prabu Minakjinggo atau Urubisma dari negeri Blambangan punya penyakit mata keranjang luar biasa. Sudah punya istri cantik Waita dan Puyengan, begitu melihat raja Majapahit Putri Kencanawungu yang cantik jelita, ukuran celananya langsung berubah. Tapi ketika cintanya ditolak, malah berontak kepada Majapahit. Untung ada Damarwulan dari Paluhamba. Minakjinggo berhasil dibunuhnya, sehingga Putri Kencanawungu malah jadi istri Damarwulan sendiri, ditambah bonus Waita-Puyengan dan Anjasmara. Gempor dah Damarwulan menggilir 4 istri sekaligus.
Mungkin masih anak keturunan Minakjingga drat ke berapa, Dirman Sugito yang asal Muncar Banyuwangi itu kelakuannya jadi mirip-mirip Prabu Minakjingga tersebut. Asal melihat perempuan cantik, pendulumnya langsung kontak. Kebetulan pula profesinya menjadi paranormal, sehingga peluang untuk memanjakan syahwatnya menjadi semakin luas. Sebab dengan dalih ritual pengobatan, pasien pun pasrah sampai tinggal mendesah ah ah ah……
Lelaki asal Desa Kemendung Kecamatan Muncar Banyuwangi ini sudah beberapa waktu lamanya buka praktek perdukunan di kota Mojokerto. Konon bagi yang percaya, tangan Dirman Sugito cukup dingin, persoalan apa saja sanggup mengatasi, dari penyakit biasa sampai kena guna-guna. Pendek kata, problem apa saja Dirman siap mengatasi,  asal jangan problem keuangan.
Adalah Mahdiana, mahasiswi universitas swasta di Malang. Dia mengalami problem studi di kampusnya. Oleh para handai taulan disarankan untuk konsultasi kepada dukun Dirman. Sesuai petunjuk tetangga tersebut, warga Kecamatan Trawas Mojokerto itu langsung menuju ke tempat praktek dukun Dirman. Beda dengan pasien lain, karena masalahnya dianggap berat, dia disarankan untuk menginap dan menjalani ritual salat malam dengan bimbingan dukun Dirman.
Kenapa persyaratannya menjadi demikian berbelit, ya karena Mahdiana ini cantiknya macam Mahdiana bini kedua koruptor Simulator SIM Irjen Djoko Susilo. Ya putih mulus, ya seksi menggiurkan, ya enak digoyang dan perlu lah. Bahkan di mata dukun asal Blambangan yang sudah kepanjingan (kerasukan) Minakjingga ini, penampilan Mahdiana malah mirip-mirip Putri Kencanawungu raja Majapahit.
Mahdiana yang tak tahu geliat di bawah perut dukun Dirman, percaya saja. Tengah malam dia diminta ambil air wudlu, katanya untuk ritual salat malam. Tapi prakteknya, di saat Mahdiana berdoa malah digerayangi. Seperti tidak sadar, mahasiswi itu menurut saja. Termasuk ketika kemudian ditelanjangi dan terus digauli bak seorang isrtri.
Keluar dari kamar ritual sekitar pukul 02.00 dinihari, keluarga mendapati Mahdiana nampak lesu letih lemah dan letoy. Gerangan apa yang terjadi? Dengan terbata-bata Mahdiana mengaku bahwa di kamar terapi dia telah diperlakukan tidak senonoh oleh dukun Dirman Sugito. Serta merta keluarganya melapor ke RT setempat dan diteruskan ke polisi Polres Mojokerto.
Dukun cabul ini segera digerebek. Tapi meski kelakuannya macam Minakjingga, saat didatangi polisi pasrah saja, bukannya menantang dengan kata-kata: “Lah sira iku wong apa, wani malbeng tamansari, rupamu bagus taruna (Serat Langendriyan – Red). Dalam pemeriksaan Dirman mengakui, sangat terangsang demi melihat kecantikan Mahdiana, sehingga semuanya terjadi begitu saja.
Ngomong yang bener: begitu saja, apa begituan? (SP/Gunarso TS)

sumber poskota

Pak Guru MTS Pusing Karena Ulahnya Sendiri

nah-sub
LEBARAN 1434 H baru saja usai, Kholid, 35, sudah pusing tujuh keliling. Apa karena gaji sebulan habis buat Lebaran? Bukan! Dia kini mendekam di Polres Bengkulu, gara-gara mencabuli bekas muridnya di MTs sampai 7 kali. “Stres saya, nggak menyangka begini jadinya,” keluhnya.
Guru SMP dengan guru MTs (Madrasah Tsanawiyah) jelas beda. Guru SMP mengajar di sekolah umum, sedangkan guru MTs mengajar di sekolah yang muatan agamanya (Islam) lebih dominan. Dus karena itu,  karakter dan akhlak guru MTs mustinya lebih terjaga, karena segala tindakannya akan terkontrol akan nilai-nilai halal dan haram. Paling sederhana saja, murid SMP mulai belajar ya belajar. Murid MTs wajib baca doa: rodlitu billahi robba, wabil Islamidina, wabi muhamamadi nabiyu warosulla…
Nah, Kholid sebagai guru MTs selalu mengajari muridnya berdoa seperti itu saat mulai mengajar. Tapi karena pengaruh syaiton, doa itu hanya nyangkut di bibir tak merasuk ke dalam jiwanya. Buktinya, melihat salah satu muridnya cukup cantik, timbul juga nafsunya. Padahal di rumah dia sudah punya istri yang siap memberi pelayanan 24 jam nonstop.
Di salah satu MTs kota Bengkulu, Fatma, 16, memang nampak paling cantik dari murid-murid yang lain. Terlebih-lebih dia berbadan bongsor, sehingga meski masih usia ABG, ibarat mobil sudah laik jalan dan siap buat nanjak di Puncak. Gara-gara itu pula Kholid di depan kelas tak bisa konsen. Sebab yang dipikirkannya hanya satu, kapan bisa membawa keluar Fatma dan memperlakukannya bak istri di rumah.
Sebagai guru, apapun kata-katanya selalu dipatuhi murid. Begitu pula Fatma. Ketika sekali waktu diajak jalan-jalan oleh Pak Guru Kholid dia tak bisa menolak, meski  ajakan itu sangat personal, tanpa dibarengi murid-murid yang lain. Maka ketika dibawa ke daerah wisata pantai Sungai Suci dia menurut saja. Padahal di dalam sebuah pondok (cotage) dia dirayu-rayu agar mau diajak hubungan intim.
Awalnya Fatma memang menolak. Tapi karena Pak Guru menyerang langsung pada sumbernya, akhirnya ABG murid MTs klepeg-klepeg. Tadinya meringis, akhirnya jadi merenges. Sejak itu diajak kencan ke mana saja Fatma tidak lagi menolak. Bahkan ketika Fatma sudah pindah ke SMK, Kholid dengan rajin mengencani bekas muridnya.
Entah berapa kali Pak Guru MTs ini menggauli anak didiknya sendiri, tak ada jurnalnya. Yang jelas kondisi pisik Fatma sangat berubah, sehingga memancing kecurigaan keluarganya. Saat diinterogasi ayah dan bunda, keluarlah kemudian pengakuannya bla bla bla….. Wah, tentu saja orangtua Fatma mencak-mencak, masak anak perempuan satu-satunya yang jadi harapan nusa bangsa, orangtua dan agama, kok dinodai oleh guru MTs.
Pak Kholid segera dilaporkan ke Polres Bengkulu. Saat diperiksa dia tidak mengakui perbuatannya. Tapi begitu Fatma dihadirkan dan mengaku sudah digauli minimal sebanyak 7 kali, guru MTs ini tak berkutik. “Maaf Pak, saya waktu itu memang sedang khilaf,” katanya. Tentu saja polisi tertawa, wong khilaf kok bisa sampai 7 kali berbuat.
Dalam sel Kholid kini banyak bengong, karena dilanda stress. Dia tak menyangka bahwa ulahnya yang terlalu memanjakan syahwat, bakal bikin kiamat. Bagaimana tidak kiamat, profesinya sebagai PNS muda bakal ditanggalkan. Misalkan bebas dari penjara 5 tahun kemudian, akan bekerja jadi apa? Keluarganya jadi berantakan gara-gara kesandung skandal seks.
Pecatan guru MTs bakal jadi tukang jual pulsa, tragis. (JPNN/Gunarso TS)

sumber poskota

Sudah Korban Peranakan Suami Masih Berat ke WIL

nah-sub
KURANG apa pengabdian Srini, 30, sebagai istri? Meski tahu suami penthalitan punya WIL segala, saat pulang minta “jatah” tetap dikasih juga. Tapi Badri, 35, memang lelaki tak tahu diuntung. Meski istri sudah korban perasaan dan peranakan, dia tak bisa melepaskan WIL-nya juga. Terpaksalah, meski perih dan pedih Srini menggugat cerai suami di Pengadilan Agama Surabaya.
Cinta menjadikan pelakunya sangat pemaaf. Seperti apa pun kelakuan orang yang dicintai, masih bisa menerima dan memaafkan. Sebab dengan kesabaran itu diharapkan orang yang sangat dicintai tersebut menjadi sadar akan kelakuannya selama ini, dan kemudian kembali ke jalan yang benar. Ada kalanya kiat ini membawa hasil, tapi juga tidak sedikit justru menjadikan sosok yang dicintai itu malah gede kepala, di samping gede nafsu.
Lelaki tak tahu diuntung itu salah satunya adalah Badri, warga Surabaya Selatan. Bini satu saja takkan habis dimakan rayap, mbagusi punya WIL segala, sehingga jarang pulang ke rumah. Padahal di rumah sudah ada dua anak yang selalu mendambakan kehadirannya, di samping Srini sebagai istrinya. Untungnya perempuan malang ini juga wanita karier, sehingga meski jarang dipasok gaji oleh suami, dia masih bisa bertahan dengan penghasilan sendiri.
Srini tahu bahwa suaminya penthalitan pelihara WIL segala, tapi dia tak pernah menegurnya secara keras macam Wagub Ahok kepada PKL Pasar Tanah Abang. Bukannya Srini takut muncul sosok macam H. Lulung yang Wakil Ketua DPRD DKI, tapi karena dia yakin bahwa pada saatnya nanti Badri akan sadar dan kembali ke jalan yang benar. Makanya setiap kali suami pulang dan kemudian minta “jatah” tetap diberinya juga, meski hatinya pedih bak diiris sembilu.
Meski jarang di rumah, pulang-pulang hanya saat mau setor bonggol, benih yang ditabur Badri pun menjadikan Srini hamil untuk anak ketiganya. Dia berharap dengan lahirnya anak ketiga tersebut Badri kemudian tobatan nasuha dan kembali ke pangkuan keluarganya. Tapi ternyata tidak. Persalinan dia tak menunggui, biaya juga tak mau keluar. Jadi sudah seperti instalatir PLN, asal sudah masukkan strom langsung pergi begitu saja.
Srini pernah nanting (bertanya), mengingat anak sudah tiga, apakah tidak sebaiknya rumahtangga yang nyaris ambruk itu ditata kembali. Tapi jawab Badri enteng saja, sudah tak bisa lagi meninggalkan WIL-nya, sehingga siap bila mana harus bercerai dari istri perdananya. “Aku mencintaimu, tapi aku tak bisa juga meninggalkan WIL-ku di sana,” kata Badri tanpa malu-malu.
Sedih sungguh Srini. Sudah korban perasaaan dan peranakan, tak dihargai juga. Akhirnya dia berketetapan, lebih baik pecah kongsi saja, memangnya lelaki di  Surabaya hanya Badri seorang? Yakin akan pilihannya, beberapa hari lalu dia mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Surabaya. Dia masih optimis menghadapi hari depan, karena dengan tiga anak pun masih mampu membiayai keluarga.
Badri anggap saja sekedar pejantan doang. (SP/Gunarso TS)

sumber poskota

Nasib Pedagang Ikan Alih Profesi Jadi `Seniman`

nah-sub
SIAP menjadi pedagang ikan, mustinya Rojak, 53, harus fokus pada pekerjaannya. Tapi dia tidak, enak-enak jadi pedagang ikan malah alih profesi jadi seniman alias senang istri teman. Keruan saja Muhsin, 64, tak terima. Begitu bekas istrinya dinikahi Rojak, langsung saja lelaki itu ditusuk pisau pemotong ikan, jussss…..
Presiden kita Pak SBY seringkali mengingatkan pada para menterinya, kerja itu harus fokus! Soal fokus pada pekerjaan memang bukan monopoli menteri, siapa saja mau sukses harus fokus pada itu barang. Jika tidak fokus alias pikiran bercabang ke mana-mana, kegagalan pasti di depan mata. Maklumlah, di manapun nakoda yang berpijak pada dua kapal mesti bakal tenggelam.
Nah, Rojak adalah lelaki dari Tasikmalaya yang juga tidak fokus pada pekerjaannya tersebut. Sudah nawaitu jadi pedagang ikan, mustinya dia harus fokus pada masalah perikanan; bagaimana memotong ikan secara benar, sehingga antara daging dan duri bisa dipisahkan dengan cepat, agar konsumen puas dan jadi pelanggan. Tapi yang dilakukannya justru berkebalikan. Ya ngurus ikan gurame dan bawal, ya ngurusin bini teman seprofesi yang memang cantik menggiurkan.
Ya, teman satu los di pasar Indihiang Tasikmalaya, istrinya yang bernama Atikah, 40, memang cukup cantik di kelasnya. Dia sering membantu suaminya dagang ikan. Setiap perempuan itu ikut dagang, pikiran Rojak jadi ke mana-mana. Ah, bodinya istri Muhsin ini begitu seksi, kulitnya putih lagi. Penampilan wanita itu benar-benar bikin otak Rojak jadi ngeres. Katanya dalam hati, “Atikah memang bikin deg-degan, dan sangat nyaman di bawah lambung.”
Inilah jahatnya Rojak. Dia bukan sekedar mengagumi Atikah, tapi pengin pula menggumuli. Karena itu pula dia berusaha menjadi anggota Lembaga Intrik dan Pengembangan Isyu, agar rumahtangga Muhsin – Atikah bubar. Dia suka menebar fitnah, sehingga Muhsin pun termakan. Padahal ketika rumahtangga teman seprofesi itu mulai retak, dia masuk dan intervensi.
Agaknya, meski hanya pedagang ikan, tapi Rojak ini memang ahli perang urat syaraf. Buktinya pertikaian suami istri ini makin meruncing, di mana pada akhirnya suami istri ini pecah kongsi alias bercerai. Ini sebetulnya musibah, tapi bagi Rojak justru menjadi berkah. Sebab begitu status Atikah ngglondhang (tanpa muatan), dengan intensif dia mendekati wanita itu dalam rangka konvensi calon suami. Karena pesertanya memang tunggal, langsung saja dia jadi pemenang.
Mereka menikah diam-diam, bahkan Muhsin bekas suaminya tidak tahu. Benar-benar Rojak menikmati kesuksesannya sebagai “seniman” tanpa pameran. Bila kemarin-kemarin hanya membayangkan seperti apa Atikah itu, setelah jadi istrinya semuanya bisa dipuaskannnya. Ibarat singkong, Rojak telah berhasil mengupas habis dan ternyata memang putih sekali dan mempurrrrr…….
Tapi serapat-rapat membungkus bangkai, lama-lama bakal tercium juga. Begitu pula halnya dengan Muhsin. Dia sangat terkejut begitu tahu bekas jandanya justru dinikahi teman dagangnya di Pasar Indihiang. Kurang ajar, menikahi istri sesama muslim kan sama saja makan bangkai teman sendiri. Langsung saja Muhsin mengasah pisau pemotong ikannya. Rojak yang ketiduran di los mungkin karena semalam lembur (lempengin burung) bersama istri barunya, langsung saja disayat di beberapa bagian tubuhnya. Gegerlah pengunjung pasar Indihiang.
Sementara Rojak dilarikan ke RS Permata Bunda, Muhsin menyerahkan diri ke Polsek Indihiang. Warga Rancagendeng Kaler, Kelurahan Sukajaya ini dalam pemeriksaan mengakui, sangat tidak rela bekas istrinya dinikahi Rojak. “Rumahtangga saya berantakan juga karena ulah dia.” Katanya berapi-api.
Nyawa Rojak pun nyaris berantakan pula. (JPNN/Gunarso TS)

sumber poskota

Cinta Sembilan Malam Duda Beranak Tiga

nah-sub
CINTA hanya satu malam saja mengasyikkan (baca: enak lagunya), apa lagi cinta sampai 9 malam, sudah pasti semakin menghanyutkan. Ini benar-benar dialami oleh duda beranak 3 Bahrun, 43, dari Aceh. Cuma karena semua tanpa restu orangtua sigadis, urusan pun memanjang sampai polisi.
“Betapa indahnya cintaku di saat itu, dalam pelukannya dalam belaiannya aku tlah terlena……” Begitu sepenggal lirik lagu “Cintaku hanya semalam” yang dinyanyikan oleh Melliya. Lagunya memang lincah dan enak, sehingga hal ini mungkin mengilhami Bahrun, warga Desa Panggoi, Lhokseumawe (Aceh). Pikir dia kemudian, cinta hanya semalam saja sangat mengasyikkan, apa lagi cinta yang beberapa malam, tentu lebih seru dan menggebu-gebu. Kalau pinjam istilah orang Jawa, pasti gemak lonteng-lonteng, krasa penak ndengkeng-ndengkeng (saking enaknya sampai menggeliat-geliat).
Bahrun memang lelaki kesepian, atau jomblo menurut istilah kekinian. Maklumlah, dalam usia puber kedua dia justru menyandang status duda. Tak jelas dia duda cerai atau ditinggal mati. Yang pasti, gara-gara status barunya tersebut Bahrun setiap malam tidur kedinginan, tanpa kegiatan signifikan seperti biasanya. Ingin sebenarnya dia nikah lagi. Tapi karena sudah punya buntut 3 biji, hal itu membuat sejumlah gadis yang diincarnya jadi melengos. Apa lagi pekerjaan Bahrun hanya sopir angkot L-300.
Agaknya doa orang kesepian juga mudah dikabulkan Tuhan. Soalnya, sekitar awal Agustus lalu ada telepon nyasar ke HP miliknya. Suaranya perempuan, usia masih ABG. Iseng-iseng Bahrun meladeni telepon tersebut. Eh kok jadi nyangkut. Artinya, dari kenal lewat HP tersebut kemudian keduanya serius pengin ketemu dan tatap muka. Pada pertemuan tanggal 6 Agustus di Simpang KKA, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara tersebut, keduanya sepakat menjalin koalisi untuk menuju sebuah konvensi.
Begitu ketemu langsung ABG bernama Rani, 16, tersebut, ukuran celana Bahrun mendadak berubah. Maklum sudah sekian lama dia tak pernah tembak-tembakan macam militer Mesir lawan Ikhwanul Muslimin. Mulailah dia pasang perangkap. Gadis itu diajak ke Banda Aceh, ternyata mau saja. Jadilah mereka pergi ke sana. Lewat seorang penghulu liar, keduanya dinikahkan. Nah, begitu merasa sudah halalan tayiban wa asyikan, gadis Rani pun diperlakukan bak istri sendiri.
Cinta hanya semalam itu ternyata enak juga ya, sehingga Bahrun pun menambahnya sampai beberapa malam lagi. Tapi enak bagi mereka, tentunya tak enak bagi orangtua Rani. Tahu bahwa anaknya dilarikan sopir angkot, mereka segera lapor ke polisi. Akhirnya Bahrun pun dipancing, agar segera kembali ke rumah, karena akan dinikahkan secara resmi dan dilanjutkan dengan pesta adat sebagaimana lazimnya. “Saya malu punya mantu kok tidak resepsi besar-besaran,” bujul ortu Rani lewat telepon.
Percaya akan bujukan orangtua Rani, Bahrun membawa “istri”-nya kembali ke Sawang, Aceh Utara. Tapi begitu sampai bukannya didaftarkan ke KUA, justru polisi datang sambil membawa borgol. Bahrun digelandang ke kantor polisi. Dalam pemeriksaan dia mengakui, sudah 9 malam dia melarikan Rani ke Banda Aceh. Katanya pula, dia menggauli gadis ABG itu atas dasar senang sama senang, bukan karena tekanan.
Dibawa sembilan malam, skore-nya sudah berapa tuh? (JPNN/Gunarso TS)

sumber poskota
 

Oknum Polisi Itu Sembunyi Setelah Menembak

nah-sub
KENAPA seorang polisi sembunyi, apa takut ditembak teroris? Bukan! Ipda Sandiman, 40, justru sembunyi karena “menembak” bini orang. Bidan yang ditembaknya sih senang-senang saja, tapi warga Bantul sebagai tetangga tak terima, sehingga mereka menggerebeknya ramai-ramai.
Polisi itu pelindung masyarakat, sehingga rakyat merasa aman dari tindak kejahatan. Sayangnya, meski mereka bertaruh nyawa tetapi gajinya kecil. Kalau ada polisi bergaji besar, itu mereka yang berpangkat perwira tinggi, apa lagi yang punya rekening gendut. Maka Wakapolri Komjen Ugroseno sampai memberi solusi, jika ingin kaya sebaiknya keluar dari Polri.
Ipda Sandiman yang bertugas di Polres Bantul, meski bergaji kecil tetap merasa hepi-hepi saja. Soalnya dia punya hiburan khusus, yakni seorang WIL bernama Rahayu, 30, yang biasa dipanggil Yayuk. Orangnya memang cantik, bersih, putih mempur macam singkong, maklum profesinya menjadi bidan. Walhasil mas polisi ini, meski kerja capek asal sudah ketemu Mbak Yayuk langsung ceria, muka berbinar-binar. Jalannya pun mantap dan tegap, macam mobil habis disporing balansing.
Bahwa Yayuk cantik jelita, semua mengakui. Jika ada cacat, dia itu masih punya suami yang sah. Tetapi kenapa oknum polisi ini terus nyosor? Ya karena Yayuk memang memberi peluang. Dus karena itu, selama suami Yayuk sering tugas keluar kota, selama itu pula Ipda Sandiman jedhal-jedhul (sering datang) ke rumah Yayuk di Desa Kepek, Timbulharjo, Sewon.
Sebetulnya warga Kepek cukup pangerten kepada Yayuk – Sandiman. Karenanya meski aktifitas oknum polisi itu terjadi sudah sejak 3 bulan lalu, warga berlagak kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Tapi rupanya Sandiman ini dinengke saya ndlindhit (dibiarkan malah nekad). Betapa tidak? Biasanya pukul 22.00 sudah pulang, kini oknum polisi tersebut berani nginep segala. Datang pukul 21.00 pulang-pulang jam 05.00. Tapi wajahnya tetap ceria, karena habis entuk-entukan.
Pak RT pernah menegur Yayuk, untuk menahan diri dan tahu diri. Maksudnya, pacaran silakan saja, tapi yang beretika dan tahu waktu. Tapi rupanya teguran halus Pak RT itu tak direspon oleh Yayuk – Sandiman. Buktinya, oknum polisi itu terus menjalani rutinitas selingkuhnya: datang pukul 21.00 dan pulang pukul 05.00.  Gila nggak, warga baru pulang dari mesjid mencari pahala, Ipda Sandiman malah pulang seusai sibuk urusan paha.
Stok kesabaran warga pun habis, sehingga beberapa hari lalu sekitar pukul 24.00 pasangan mesum Yayuk – Sandiman digerebek. Takut dihakimi warga, oknum polisi itu tetap sembunyi di kamar. Baru setelah Kapolsek Sewon dihadirkan malam itu juga, Ipda Sandiman mau keluar. Keduanya pun lalu digelandang ke Mapolsek. Terpaksalah, jeruk harus makan jeruk.
Tapi Sandiman kan habis makan bini orang.  (TN/Gunarso TS)

sumber poskota

Bila Oknum TNI Main Api Dengan Janda Bahenol




nah-sub
APAPUN  pangkatnya, anggota TNI tak boleh poligami. Maka Lettu Susarli, 38, pun terjebak pada permainan api sendiri. Sudah punya istri masih pacari janda bahenol Sumanti, 37, hingga hamil. Giliran dituntut untuk tanggungjawab malah menggertak laporkan saja ke kesatuan. Sumanti pun jadi nekad, dan kini oknum TNI petualang itu masuk sel.
Sebagai prajurit sapta margais, anggota TNI memang tidak boleh poligami. Dari kroco balok satu sampai bintang empat, aturannya sama. Polisi dan PNS juga begitu. Kalau ada perkecualian, hanya wakil presiden yang boleh berbini tiga, itu pun di zaman Presiden Megawati. Pemerintahan setelahnya, pejabat tinggi negara juga tidak boleh poligami, kecuali …..kepepet.
Lettu Susarli yang bertugas di Batalyon Armed II Deliserdang, sebagai perwira menengan TNI, tahu sekali atas batasan tersebut. Tapi ketika kenal dengan janda muda Sumanti yang demikian seksi menggiurkan, lupalah dia akan disiplin dan kode etik profesinya. Setiap melihat Sumanti daya khayalnya berkembang ke mana-mana. “Ibarat singkong, kalau dikupas pasti putih dan mempur…..,” kata batin oknum TNI setiap melihat Sumanti.
Janda muda dari Dusun II, Desa Binjai, Kec. Tebingsyahbandar, Kab. Sergai tersebut lalu didekati secara serius dengan mengaku sebagai duda. Dari SMS-an, telpon-telponan, kemudian ditingkatkan sampai jalan bareng. Ketika deklarasi cinta sudah diumumkan, Sumanti pun tak keberatan diajak ke Medan dan menginap di Hotel Istana, Jl. SM Raja. Di sinilah, koalisi itu diteruskan dengan “eksekusi”.
Sejak itu hubungan intim bak suami istri itu sudah menjadi rutinitas. Yang Sumanti tidak menduga, Lettu Susarli itu nafsunya besar sekali, cocok dengan namanya. Betapa tidak? Saat berbagi cinta dia tak hanya menjalankan secara konvensional, praktek sodomi pun dipraktekkan juga. Bahkan paling gila, selaian adegan mesum itu suka direkam pakai HP, Sumanti pernah dikirimi MMS berupa “burung” Lettu Susarli yang tak bisa bernyanyi trilili lili……
Karena kadung mencintai, segala ulah oknum TNI itu dianggap sebuah kegenitan semata. Makanya kapan saja minta, Sumanti berusaha melayani. Seperti misalnya saat Susarli mengikuti pendidikan di Cimahi, dia ditelepon supaya datang ke Bandung pakai pesawat atas tanggungan oknum TNI ini. Padahal di sana dia hanya sekedar dijadikan ajang pemuas nafsu di sebuah hotel di Cimahi.
Selama hubungan semakin jauh dan rusuh (tak wajar), Sumanti pun minta dinikahi segera, sehingga hubungan itu menjadi resmi. Tapi ternyata Susarli berjanji dan berjanji terus. Dan ketika hasil kerjasama nirlaba itu telah menghasilkan janin di perutnya, kembali Sumanti menuntut untuk segera dinikahi. Ternyata dia malah berkelit. “Kalau kamu tak terima, lapor saja ke kesatuan saya. Tak mungkin baju dinesku copot gara-gara ini,” tantang Lettu Susarli jumawa sekali.
Ee, perempuan kok ditantang, hiyooooh!  Segera saja Sumanti mengadu ke Detasemen Polisi Militer (Denpom) I/5 di Jl. Letjen Suprapto Medan. Karena bukti-buktinya cukup kuat, akhirnya oknum TNI yang suka bermain api itu ditahan dan dijerat Pasal 281 KUHPidana dan Pasal 36 UU RI No 44 tahun 2008 tentang pornografi. Legalah Sumanti, karena sakit hatinya telah terbayarkan. Prinsip dia, dirinya hancur, karier Susarli juga harus hancur.
Kemarin melepas baju Sumanti, besoknya bakal lepas baju TNI. (SP/Gunarso TS)

sumber poskota