Selasa, 29 Oktober 2013

Merayu Janda Lebih Susah Ketimbang Merayu Rakyat

NID-21okt
CALEG  harus pandai merayu rakyat. Tapi bagi Johardin, 35, Caleg PKB dari Kamal (Madura), merayu janda rupanya lebih susah. Buktinya saat gagal dapatkan cinta Marwiyah, 25, dia lalu main pukul. Keruan saja cinta janda kempling itu makin jauh, bahkan lapor polisi.
Pada 11 Januari hingga 5 April 2014 mendatang merupakan masa-masa wakil rakyat DPR dan DPR getol merayu rakyat. Lewat spanduk dan baliho di dapil masing-masing, seorang Caleg merayu rakyat untuk memilih dirinya. Dia boleh berjanji apa saja kepada konstituen, soal bisa dipenuhi atau tidak, itu urusan nanti. Yang penting konstituen sudah mencoblos dirinya, sehingga bila jumlah suara memungkinkan, loloslah dia jadi anggota dewan.
Tetapi bagi Caleg PKB dari Kamal yang bernama Johardin, merayu rakyat lebih mudah ketimbang merayu janda. Buktinya, dia sudah berulangkali merayu Marwiyah agar mau dicoblosnya, eh susahnya bukan main. Saking geregetannya, Marwiyah si janda kempling itu disekap di rumahnyan dan kemudian dianiaya sampai babak belur. Celakanya, si Caleg PKB ini malah kabur setelahnya, sehingga pencalegan dia kemungkinan besar dibatalkan.
Caleg warga Desa Karanganyar, Kecamatan Kamal Kabupaten Bangkalan ini agaknya termasuk lelaki serakah juga. Sudah punya istri, matanya masih jelalatan saat melihat janda Marwiyah  yang tinggal sekampung.  Janda itu memang cantik, putih dan seksi lagi. Dia mengejarnya jauh sebelum jadi Caleg. Tapi kini, ketika sebentar lagi bakal jadi wakil rakyat -kalau terpilih tentunya- Marwiyah ternyata tetap bergeming. Masalah mendasar yang Marwiyah jadi ogah, dirinya hanya akan dijadikan istri kedua.
Galau betul Johardin. Bagaimana caranya untuk menaklukkan konstituen satu ini hingga masuk ranjang pencoblosan. Kalau untuk pileg, asal pasang spanduk dan baliho ditambah rajin mendekati rakyat, Insya Allah jadi. Untuk menaklukkan Marwiyah, apa harus juga pasang spanduk dan baliho di berbagai sudut kampung? Lalu kata-katanya seperti apa? Apa mungkin: ”Johardin, calon suami Marwiyah paling amanah di 2014”?
Beberapa hari lalu saat Johardin mengendarai mobil bersama adiknya, nampak si janda kempling naik motor hendak belanja ke Bangkalan. Kontan Johardin mendekati motor itu dan memaksa Marwiyah untuk siap diantarkan. Tapi ternyata dia tidak mau. Ingat penolakan si janda selama ini, Johardin jadi marah. Tak ayal lagi Marwiyah jadi sasaran pemukulan dua lelaki kakak beradik ini. ”Awas kalau kamu tak mau tak ajak ke rumah.” ancam Johardin.
Berkat ancaman itu, akhirnya Marwiyah mau ikut mobil Johardin, sementara motornya dikemudikan si adik sang Caleg. Kembali di rumah Marwiyah dianiaya, lalu dimasukkan ke kamar. Mau dicobloskah? Bukan, sekedar untuk disekap. Dia berharap janda kempling itu lalu berubah pikiran, siap dijadikan bini kedua.
Untung sepakterjang Johardin terlihat para tetangga, sehingga keluarga Marwiyah dihubungi. Saat orangtua si janda malang itu datang, Johardinnya sudah kabur. Dengan didobrak pintu berhasil dijebol. Marwiyah dilarikan ke Rumah Sakit Daerah (RSD) Syamrabu Bangkalan, sementara Caleg PKB yang lebih mengutamamakan kebangkitan syahwat itu dilaporkan ke Polsek Kamal. Bila kasus ini menjadi masalah hukum, kemungkinan Johardin gagal berlaga di Pileg 2014.
Caleg bakal berubah jadi capi alias calon napi. (JPNN/Gunarso TS) 

Wanita Pengantin Baru Paksa Masuk ”Alam Baru”

19-dia
SAYANG amat! Jadi pengantin juga baru sebulan, tapi Winda, 21, dengan paksa masuk ”alam baru” alias meninggal dengan cara bunuh diri. Masalahnya juga sepele, hanya tak tahan dengar kabar Rahmad, 25, suaminya selingkuh. Masak iya sih, baru hot-hotnya punya ”kendaraan” baru kok sudah berpaling ke wanita lain?
Kendaraan baru dengan harga murah, kini sedang diburu warga Ibukota, tak peduli Gubernur Jokowi mencak-mencak. Orang kaya tanggung ingin merasakan seperti apa sih nikmatnya punya mobil. Sedangkan Pak Gubernur berfikir, seperti apa sih nikmatnya Jakarta terbebas dari kemacetan?  Tapi bila mobil-mobil baru terus bertambah banyak di Ibukota, percuma saja Pemprov DKI berjuang mati-matian untuk membasmi kemacetan.
Bila di Jakarta kendaraan baru bikin repot Gubernur, di Balikpapan (Kaltim) kendaraan baru milik Rahmad justru bikin repot tetangga sekitarnya. Maklum, kendaraan Rahmad ini bila sedang marah, suaranya bisa terdengar ke mana-mana. Kendaraan kok bisa marah, memangnya merk apa? Ssst, asal tahu saja, kendaraan itu pakai tanda petik, karena maksud aslinya adalah istri. Maka kendaraan milik Rahmad ini tak hanya bisa marah, masak dan kentut juga mahir.
Itulah, tetangga Rahmad di Pandan Wangi Kelurahan Margasari, Balikpapan Barat juga dibuat heran. Masa, pengantin baru usia sebulan kok sering ribut, berantem. Padahal mestinya kan sedang mesra-mesranya. Kalau pun ribut, mustinya tak perlu teriak-teriak, cukup bergulat antara hidup dan mati, di atas ranjang. Namanya juga pengantin baru.
Kakak sepupu Rahmad yang tinggal dekat rumah kontrakan pengantin baru itu sudah sering menasihati, jikalau ribut tak perlu teriak-teriak, malu sama tetangga. Tapi Winda tak peduli, jika marah vokal banget deh, mirip anggota DPR di Senayan. Cuma kalau vokalnya wakil rakyat dinilai positif, vokalnya Winda justru bisa bikin bayi stip.
Apa yang menjadikan Winda marah? Ada kabar suaminya selingkuh, back to basic pada kekasih lama. Padahal istri Rahmad ini tak bisa menunjukkan bukti di mana titik perselingkuhan itu. Bila sekedar SMS, apa benar itu pesan dari kekasih lama Rahmad. Di tengah teknologi modern, bisa saja pihak lain yang mengirim. Ingat kasus Antasari Azhar? Dia kena bui 18 tahun gara-gara ada SMS ancaman yang dipaksakan sebagai milik mantan Ketua KPK tersebut.
Tapi pada beberapa hari lalu, sejak pagi hingga sore tak ada keributan. Tetangga pun senang. Tapi sore harinya ketika Rahmad histeris sepulang kerja, para tetangga kaget. Ternyata Winda menempuh caranya sendiri. Tidak ributnya pengantin wanita itu ternyata karena sudah mati gantung diri. Akar penyebabnya ya itu tadi, dia termakan isyu bahwa suaminya pacaran lagi dengan kekasih lama.
Polisi pun turun tangan. Tak ada tanda-tanda penganiayaan, sehingga diyakini Winda memang bunuh diri. Cuma para tetangga sangat menyayangkan, istri Rahmad yang cantik itu berfikir terlalu pendek, sehingga umurnya pun menjadi pendek.
Waktu gantung diri apa juga pakai celana pendek? (JPNN/Gunarso TS) 

Undangan ke Rumah Ditolak Bekas Istri Digasak

21-dia
SUDAH bukan suami istri, tapi Markun, 28, dan Isti, 25, masih juga ribut. Gara-gara soal anak dijadikan dalih agar bekas istri mau main ke rumah, Ny. Isti pun jadi marah. Tapi kemarahan itu justru dijawab Markun dengan serangan tinju dan lemparan bata, keruan saja ibu dua anak itu KO dan melapor ke Polsek Muncar (Banyuwangi).
Ketika perceraian harus terjadi, yang jadi korban bukan saja anak-anak, tapi juga “Si Jendul” milik eks suami. Buktinya, di banyak kejadian bekas suami masih ngglibet pengin ketemu istri hanya sekedar untuk berbuat sebagaimana layaknya suami istri. Padahal dengan status talak 1 maupun 3, hal itu tak boleh dilakukan lagi. Bila dipaksakan juga, itu sama saja perbuatan zina atau ji-na karena ijinnya ora ana (tidak ada).
Markun adalah salah satu lelaki yang jadi ”korban” akibat hancurnya sebuah rumahtangga. Sebetulnya dia tak menginginkan terjadinya perceraian itu. Tapi gara-gara kemiskinan yang terus melilit, Isti sebagai istri memilih pecah kongsi, membatalkan koalisi permanen yang pernah dibangun 5 tahun lalu. Anehnya, anak-anak yang biasanya dipertahankan oleh bekas istri, justru kini keduanya dibebankan pada Markun.
Lelaki nelayan dari Tambakrejo Kecamatan Muncar ini memang kelewatan. Hasil melaut hanya pas-pasan tapi hobinya judi mabok-mabokan tak juga hilang. Keruan saja Istri sebagai istri tidak tahan, sebab tak ada ceritanya pemabok dan penjudi bisa kaya. Karena segala nasihatnya tak digubris, ya sudahlah…..cerai saja. Lewat Pengadilan Agama Banyuwangi, kebebasan itu diperolehnya. Dan makin bebas lagi, karena hak asuh dua anak jatuh pada sang pemabok. Biar tambah mabok, gara-gara ngurus anak.
Sial betul nasib Markun. Ngurus dua anak saja repot, tapi ”Si Jendul” miliknya juga sudah beberapa bulan terlantar gara-gara perceraian itu. Mau cepat-cepat nikah lagi, tak ada biaya. Makanya kadang Markun iri sama politisi. Karena duit banyak lewat politik daging sapi, ada yang koleksi bini sampai 2-3-4, sedangkan dia yang nelayan miskin, mau ganti istri yang minta cerai saja susahnya bukan main.
Sebagai pelarian susahnya hidup, kembali Markun suka mabuk-mabukan. Beberapa hari lalu saat dia minum tuak di pinggir pantai, bekas istri dilihatnya sedang mau beli nasi goreng, tapi kehabisan. Dia segera mendekati dan ditunjukkan di mana warung nasi goreng yang masih ada. Sambil berjalan menuju warung dia merayu-rayu Isti agar mau main ke rumah, karena anak-anak kangen. Padahal sebetulnya, yang paling kangen Markun sendiri, terutama ”Si Jendul”.
Ternyata jawaban Isti sangat menyakitkan, ”Tapi kan anakmu juga, kan?” Nah, jawaban itu menjadikan Markun naik pitam. Tanpa ba bi bu lagi, Isti langsung digasak (dipukul) hingga terjatuh. Tambah sadis lagi, potongan bata merah pun diambil dan dilempar ke wajah Isti, pletakkkk! Untung saja banyak yang melihat adegan itu, sehingga keduanya segera dilerai. Dalam kondisi wajah simpang siur, Isti pun mengadu ke Polsek Muncar dengan mengusung pasal KDRT.
Sadis, gagal menggoyang malah main tendang. (JPNN/Gunarso TS) 

Biar Istri Tak Selingkuh Kaki Dan Tangannya Dibacok

dia-23
TANPA bantuan kaki dan tangan, orang tak mungkin bisa berbuat, termasuk selingkuh. Maka demi mendengar istrinya, Sumiati, 40, berbuat selingkuh, cara Dariman, 45, menyelesaikan gampang saja. Kaki dan tangan istrinya pun dibacok, sehingga ibunya anak-ana ini tak bisa ke mana-mana. Tapi karena kesadisannya, Dariman jadi urusan polisi.
Tangan dan kaki merupakan perangkat vital manusia dalam bergerak. Tanpa bantuan  kedua piranti tersebut, manusia tak bisa berkarya secara maksimal. Tetapi jika kedua alat yang vital tersebut juga dijadikan sarana memanjakan alat vital yang bukan porsinya, jelas itu pelanggaran hukum negara dan agama. Dalam Islam, tangan yang digunakan untuk mencuri, sanksinya dipotong juga itu tangan. Kalau masih juga mencuri dan mencuri, kaki pun dibuntungi.
Agaknya Dariman punya pola pikir semacam itu juga. Demi mendengar sang istri suka pulang malam dalam rangka berburu PIL, dia menghentikan praktek mesum secara radikal. Meski tak sampai membuntungi tangan dan kaki istri, dengan membacok tangan dan kaki istrinya, Sumiati memang tak bisa lagi pergi ke mana-mana menemui PIL-nya. Dia harus terkapar di rumah sakit, berhari-hari. Kapokmu kapan!
Dariman warga Jl. Juwingan, Gubeng, Surabaya, adalah pegawai KMS bagian Kebersihan dan Pertamanan. Tugasnya lumayan berat, sehingga pulang dari kantor sering kemalaman. Sampai rumah sudah kecapekan, sehingga sering lupa pada ”kewajiban” hakiki seorang suami. Setelah makan malam langsung blegg…..tidur mendengkur bagaikan Haryo Kumbokarno dari negeri Ngalengkadiraja.
Sumiati istrinya awalnya bisa memaklumi. Tetapi ketika ”kecapekan” itu menjadi rutinitas, dia sebagai istri yang masih muda dan enerjik, tentu saja jadi sering kesepian. Berulang kali dia mengajak “ngetik”, tapi Dariman beralasan ngantuk. Giliran ngantuknya sudah hilang dan siap “ngetik” eh…. jawaban Sumiati ketus sekali, “Wis kadung tak tulis tangan (sudah terlanjur ditulis tangan) Mas.”
Belakangan Sumiati sering pergi hingga malam hari, padahal dia hanya ibu rumahtangga biasa. Alasannya sih ada saja, bezuk orang sakit bersama ibu-ibu, lain hari bilang arisan, lain waktu berkilah ada kegiatan PKK. Tetapi ketika hal itu dicek kepada geng Sumiati, semuanya tidak klop. Sejak itu Dariman mulai curiga bahwa istrinya sedang punya PIL.
Dariman pernah mengklarifikasi jika tak mau disebut menginterogasi, tapi Sumiati malah marah bahkan menantang cerai saja jika tak percaya pada istri. Dari sini Dariman menjadi semakin yakin akan dugaannya. Dia segera berfikir cepat. Untuk menghentikan langkah mesum sang istri, tak ada lain kecuali dengan tindakan radikal, meski tidak populer.
Istri yang sedang klekaran (berbaring) di ranjang itu langsung saja dibacok pada kedua kakinya, lalu kedua tangannya. Tak sampai putus atau luka dalam, tapi cukup membuat Sumiati meraung-raung kesakitan. Ketika para tetangga menolong dan melarikan ke RSUD Dr. Sutomo, Dariman malah kabur. Kasus ini segera dilaporkan ke Polsek Gubeng, dan pegawai KMS itu jadi urusan polisi.
Sumiati memang tak bisa lagi jemput ”bola”. (BJ/Gunarso TS)  

Biar Cuma Satpam Pabrik Tapi ”Pentungan”-Nya Mas

dia-23
Pilih mana hayo, suami PNS yang sudah pensiun, atau PIL yang hanya Satpam pabrik? Ternyata Mira, 40, memilih Jondi, 42, yang satpam itu. Tapi jangan tanya, meski Satpam umumnya tak dilengkapi senjata api, bagi Mira, ”pentungan” Jondi sungguh lebih menjanjikan!
Istri cap apapun, meski suami sudah pensiun dari dinas, tak mengharapkan juga pensiun dalam urusan ranjang. Tapi karena kodrat, kebanyakan lelaki semakin tambah usia juga semakin mundur dalam urusan satu itu. Ketika suami istri sudah sama-sama tua, fungsi istri tak lebih hanya sekedar teman tidur dalam arti sebenarnya. Makanya yang paling repot, ketika usia suami istri ini tak seimbang. Suami usia 60 tahun sekedar mengajar tidur bareng, istri yang usia 40 tahun maunya…..ditiduri juga!
Ini pula yang menjadi problem Ny.  Mira, warga Kelurahan Kedung Jaya, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Di kala usianya masih demikian muda dan enerjik, si suami sudah mulai loyo bak kerupuk disiram air. Padahal maunya Mira, meski suami sudah pensiun dadi PNS sejak 4 tahun lalu, tapi Tisna masih rosa-rosa macam Mbah Marijan. Bila pinjam istilah militer, tampang boleh Pepabri, tapi sepakterjangnya di ranjang masih seperti Akabri.
Kadang Mira menyesal, kenapa dulu mau jadi istri PNS yang beda usia demikian jauh. Dia yang masih usia 20 tahun, diharuskan nikah dengan perjaka tua usia 40 tahunan. Saat masih pengantin baru memang tak ada masalah. Semuanya baik-baik saja. Ibarat mobil, meski Tisna ini jenis Toyota Kijang tahun 96-an, dibuat nanjak di Puncak masih oke juga. Tapi setelah usia menjelang kepala enam, mulai deh. Dibuat nanjak sudah susah, bila gas digeber paksa, eh…..olinya bocor ke mana-mana!
Punya suami yang purna tugas sekaligus purna ranjang, menjadikan hidup Mira kesepian di usia yang demikian emerjik dan kaya vitalitas. Dalam kondisi demikian jomblo tersebut, eh dia berkenalan dengan Satpam Jondi yang usianya tak jauh beda dengannya. Langsung saja dadanya ser-serrran penuh gairah. ”Andaikan dia adalah suamiku,” begitu Mira berkhayal.
Ternyata deburan jantung Mira juga sangat dirasakan oleh Satpam Jondi. Sebab dalam usia STNK demikian, penampilan istri Tisna ini masih menjanjikan. Cukup cantik, pandai bergaul, rambut pendek, suka pakai kacamata hitam, dan tidak merokok. Andaikata doyan merokok juga, pasti mirip deh dengan Bunda Putri made in Cilimus.
Singkat cerita keduanya menjadi akrab, dan ternyata Jondi memang bisa menjawab tantangan Mira selama ini. Bagi istri yang kesepian macam Mira, kondisi ekonomi Jondi tak menjadi dasar pertimbangan. Buat apa punya suami yang duitnya satu prahoto (truk) tapi di ranjang loyo? Mendingan dengan Satpam, meski tak dilengkapi senjata api tapi ”pentungan” Jondi sangat menjanjikan.
Konyolnya, meski siap jadi PIL Mira tapi Jondi tak siap dengan keuangan. Buktinya, untuk berkoalisi ranjang tak mampu pergi ke hotel, kecuali di kamar sendiri sambil menunggu kelengahan Tisna. Dan bilamana selama ini aman-aman saja, berbeda dengan kejadian beberapa hari lalu. Saat keduanya bergulat antara hidup dan mati, tiba-tiba digerebek Tisna dan para tetangga. Keduanya pun dibawa ke Polsek Tanah Sereal.
Ke Polsek Tanah Sereal gara-gara urusan ”sawah” Se-petak. (TN/Gunarso TS) 

Pamit Urut ke Palembang, Malah “Diurut” Tetangga

dia-25-13
PINTAR juga Ny. Imel, 28, bermain belakang. Pamit pada suami untuk urut ke Palembang, nggak tahunya malah ”diurut” Johan, 28, pemuda tetangga dalam hotel. Saat digerebek polisi para peselingkuh itu mengakui, setidaknya sudah enam kali main ”urut” di berbagai tempat.
Kaum lelaki memang suka tidak adil. Saat dirinya yang selingkuh, minta dimaklumi. Tapi giliran istrinya yang selingkuh,  dia maunya diusut sampai tuntas. Padahal mustinya dalam rumahtangga, tak boleh ada balas dendam di antara kita. Jika suami sudah minta maaf, selesai sudah. Tak perlu istri berfikir untuk membalas gantian selingkuh. Dengan cara demikian segeralah tercipta keluarga sakinah penuh rahmah, sukur-sukur punya pembantu bernama Sukinah.
Agaknya Imel adalah termasuk tipe wanita yang pendendam, terlihat dari bentuk gigi yang jarang. Ketika dia pernah memergoki SMS mesra di HP suami yang diduga dari wanita yang jadi WIL-nya, dia lalu berfikir bagaimana bisa membalas dendam, sehingga skor menjadi 1-1. Padahal sekedar SMS tak bisa dijadikan patokan bahwa itu perselingkuhan. Bisa saja suami panggil seseorang ”Yang”, karena memang nama dia Mayang.
Gara-gara SMS tersebut, dia sering mengungkit-ungkit hal itu pada suami. Akibatnya suami istri itu sering ribut. Celakanya, ketika Imel curhat masalah rumahtangganya bukan pada orangtua, tapi justru pada anak lelaki sebaya, yang tinggal di sebelah rumah kontrakannya. Akhirnya bukan memperoleh jalan keluar, justru keduanya keluar rumah cari hotel untuk berbagi cinta bak suami istri laiknya.
Ibu rumahtangga warga Desa Tugumulyo, Kecamatan Lempuing, OKI (Ogan Komering Ilir) Sumsel ini memang bersebelahan dengan kamar kontrakan pemuda Johan. Di sinilah ironisnya. Anak muda yang belum pernah tahu pahit getirnya berumahtangga, dipaksa jadi konsultan, tentu saja solusi yang diberikannya jauh panggang dari api. Mestinya dia bisa mendamaikan, justru dia malah mencari yang sempit-sempit dalam kesempitan orang.
Misalnya ketika Imel sedang curhat lewat HP, Johan justru bertanya suamimu ada di rumah tidak? Begitu dijawab masih di kantor, dengan gegap gempita dia main ke rumah perempuan itu. Awalnya sekedar ngobrol biasa, tapi begitu situasinya semakin kondusif, Johan malah mengajak hubungan intim bak suami istri. Dilihat keduanya anaknya sudah tidur, Imel segera melayani permintaan anak muda itu.
Sukses dengan debut selingkuhnya yang pertama, Johan menjadi ketagihan. Asal Wawan, 35, suami Imel pergi, dia main ke rumah tetangga itu sekedar untuk ”ngetap olie”. Paling anyar, saat Imel hendak ke Palembang dalam rangka untuk urut, di dalam bis ditelepon Johan agar main ke hotel dulu untuk ”bersuka ria” sejenak. Sudah kadung sayang, Imel tak bisa menolak permintaan itu. Jadilah dia ”diurut” Johan sampai merem melek.
Tapi sial kali ini. Ketika mereka baru saja selesai menuntaskan birahi, kamar hotel di daerah Kayuagung itu digerebek polisi dengan ditemani Wawan suami Imel. Jelas keduanya tak bisa berkutik. Keduanya segera digelandang ke Polres OKI untuk menjalani pemeriksaan. Dalam pengakuannya, baik Imel maupun Johan mengaku bahwa baru 6 kali berhubungan intim bak suami istri.
Itu kan yang diingat, yang lupa berapa kali, hayo! (SP/Gunarso TS)  

Pacar Janda Kesepian Bocor Dikepruk Genting

                       nah-sub-1
ASYIK nggak, habis mesra-mesraan dengan janda cantik, lalu dikepruk genting kodok. Asyik nggak asyik, begitulah nasib  Gustadi, 40, warga Mojokerto (Jatim). Di kala sedang ”ketanggungan” eh kepergok bekas suami sijanda. Lelaki itu marah, sehingga Gustadi dihajarnya, karena tak rela rumah miliknya dijadikan ajang mesum.
Menjanda di kala usia masih muda dan enerjik, memang merupakan siksaan berat. Hidup menjanda dalam usia 60 tahun ke atas sih, tak masalah. Malam hari cukup tidur mendengkur. Kalaupun bangun, tentunya akan menjalankan salat malam. Dalam usia itu memang tak perlu lagi memikirkan urusan paha, kecuali mencari pahala buat bekal di rumah ”masa depan”.
Janda Musirah, 36, termasuk wanita yang tak mampu menahan godaan itu. Ketika masih rukun dengan suami, segala libidonya bisa terpenuhi tanpa kendala. Tapi sejak diceraikan beberapa tahun lalu oleh Bandi, 39, suaminya. Pasokan cinta kasih itu langsung stop. Bahkan kini ketambahan beban harus mengasuh kedua anaknya hasil kerjasama nirlaba selama 10 tahun itu.
Untungnya harta gono-gini berupa rumah itu tak segera dibagi. Musirah diberi kesempatan meninggalinya, sampai dia dapat suami kembali. Di sinilah celakanya, sampai beberapa tahun tak ditemukan juga suami pengganti, sedangkan gairah malamnya semakin menjadi-jadi. Padahal kata ludruk Surabaya, kelamaan menjadi janda bisa ngentekna klasa.
Adalah Gustadi, seorang lelaki yang cepat menangkap gejolak batin Musirah. Tahu bahwa si janda sedang kesepian rindu belaian, dia menyempatkan diri rajin bertandang ke rumahnya. Ternyata Musirah cocok juga dengan pendekatan lelaki yang sesama tinggal di Desa Gayaman Kecamatan Mojoanyar ini. Maka ketika kemudian Gustadi semaki agresif, dia tak lagi bisa menolak. Termasuk saat lelaki itu mengajaknya hubungan intim bak suami istri.
Sejak saat itu hampir setiap malam Gustadi bergerilya ke rumah Musirah untuk bermesum ria. Tapi sial beberapa malam lalu, ketika keduanya sedang ”ketanggungan” memburu kenikmatan sesaat, eh Bandi bekas suaminya datang dengan alasan mau ketemu anak-anaknya. Alangkah kagetnya demi melihat bekas istrinya tengah berbuat mesum di rumahnya.
Meski Musirah bukan lagi wilayah domainnya, tetapi berbuat mesum di rumah milik pribadinya, sungguh sebuah pelecehan. Karenanya dia berterik minta tolong, sehingga warga rame-rame menggerebeknya. Mendengar kabar bahwa Gustadi demenan dengan janda Bandi, warga pun tambah emosi, sehingga ada yang mengepruknya dengan genting kodok made ini Soka. Tak ayal lagi kepala Gustadi pun bocor. Kalau saja polisi Polsek Mojoanyar tak segera mengamankannya, jadilah perkedel dia.
Perkedal cap Gustadi, seperti apa rasanya? (BJ/Gunarso TS)  

Antara Penegak Hukum & Polisi Penegak Burung

                        nah-sub  


POLISI itu penegak hukum, tapi oknumnya yang bernama Ipda Kajiman, 40, justru getol dalam urusan “penegakan burung”. Paling ironis, dia sampai digerebek oleh istri dan anaknya menjelang subuh, di rumah seorang bidan. Tapi dasar pinter berkelit, di depan massa penggerebeknya dia bilang: “Saya hanya menjemput dia untuk beli bakmie.”
Bukannya ngajari lho ya, orang berani selingkuh  harus rajin dan pandai berbohong. Tapi meski berbohong, harus bisa diterima akal dan logika. Jika tidak, hanya akan digeguyu pitik (ditertawakan ayam). Misalnya saja, apa mungkin pukul 03.00 datang ke rumah gendakan hanya sekedar untuk mengajak beli bakmie? Lagi pula, masa untuk beli bakmie saja harus menunggu lengah suami sang gendakan?
Tak masuk akal, kan? Ewa segitu, alasan ini dibela mati-matian oleh Ipda Kajiman, oknum polisi dari Polsek Bantul, DI Yogyakarta. Dia meyakinkan bahkan hakul yakin bahwa malam itu hendak pergi dengan bidan Watinah, 33, dalam rangka membeli bakmie. Lalu katanya pula, ”Kami beranjak dari rumah untuk cari bakmie, warga sudah mencegatnya.”
Benarkah demikian? Yang terjadi justru sebaliknya. Setelah pasangan mesum itu digerebek oleh warga, tak lama kemudian hadir di rumah Bu Bidan ini istri dan anak lelaki Ipda Kajiman. Setelah keduanya masuk, segera terdengar suara: krompyang….! Rupanya, ada yang membanting piring. Bisa juga istri polisi ini marah, suaminya menjelang subuh kok grumutan ke rumah bini orang segala.
Ipda Kajiman selama ini bertugas di Polsek Bantul, Kabupaten Bantul. Dari kesibukannya dalam tugas tersebut, dia kemudian kenal dengan Watinah, seorang bidan warga Kepek Kelurahan Timbulharjo, Kecamatan Sewon. Ternyata perkenalan itu berkembang, bukan sekedar pertemanan biasa, tapi sudah menjadi perteminan yang dilanjutkan ke urusan perkelaminan. Salah satu indikasinya, oknum polisi ini hanya berani ke rumah Watinah di kala suami pas tak di rumah.
Sekali dua kali warga masih membiarkan saja. Tapi setelah berkali-kali, warga jadi makin curiga bahwa keduanya memang sudah berbuat hil-hil yang mustahal. Mengingat yang dihadapi polisi, mereka tak berani bertindak blak-blakan. Cuma asal Kajiman lewat, warga dehem-dehem atau batuk-batuk kecil. Tapi rupanya, meski orang Jawa tulen Kajiman ini tidak ”ing sasmita amrih lantip” (tidak cerdas membaca isyarat).
Lama-lama kesel juga warga, sehingga beberapa malam lalu, saat menjelang subuh keduanya hendak keluar rumah. Warga langsung ”menangkap”-nya, dan disidangkan di rumah Watinah. Tapi tak lama kemudian, istri Kajiman datang dengan mobil Honda City ditemani anak lelakinya. Beberapa saat setelah keduanya masuk,  tiba-tiba terdengar suara krompyang. Jangan-jangan kepala Kajiman dilempar piring seng oleh istrinya.
Gara-gara kasus tersebut, Ipda Kajiman kini ditarik ke Polres Bantul. Dia setiap hari wajib lapor. Bila kesalahan oknum polisi terbukti, yakni penegak hukum malah melenceng jadi ”penegak burung”, dia bisa dipecat dari kepolisian. Oleh karenanya polisi kini terus mengumpulkan bukti-bukti baru.
Salah satu buktinya, ya bunyi krompyang itu tadi. (HJ/Gunarso TS)