TANPA bantuan kaki dan tangan, orang tak mungkin bisa berbuat, termasuk selingkuh. Maka demi mendengar istrinya, Sumiati, 40, berbuat selingkuh, cara Dariman, 45, menyelesaikan gampang saja. Kaki dan tangan istrinya pun dibacok, sehingga ibunya anak-ana ini tak bisa ke mana-mana. Tapi karena kesadisannya, Dariman jadi urusan polisi.
Tangan dan kaki merupakan perangkat vital manusia dalam bergerak. Tanpa bantuan kedua piranti tersebut, manusia tak bisa berkarya secara maksimal. Tetapi jika kedua alat yang vital tersebut juga dijadikan sarana memanjakan alat vital yang bukan porsinya, jelas itu pelanggaran hukum negara dan agama. Dalam Islam, tangan yang digunakan untuk mencuri, sanksinya dipotong juga itu tangan. Kalau masih juga mencuri dan mencuri, kaki pun dibuntungi.
Agaknya Dariman punya pola pikir semacam itu juga. Demi mendengar sang istri suka pulang malam dalam rangka berburu PIL, dia menghentikan praktek mesum secara radikal. Meski tak sampai membuntungi tangan dan kaki istri, dengan membacok tangan dan kaki istrinya, Sumiati memang tak bisa lagi pergi ke mana-mana menemui PIL-nya. Dia harus terkapar di rumah sakit, berhari-hari. Kapokmu kapan!
Dariman warga Jl. Juwingan, Gubeng, Surabaya, adalah pegawai KMS bagian Kebersihan dan Pertamanan. Tugasnya lumayan berat, sehingga pulang dari kantor sering kemalaman. Sampai rumah sudah kecapekan, sehingga sering lupa pada ”kewajiban” hakiki seorang suami. Setelah makan malam langsung blegg…..tidur mendengkur bagaikan Haryo Kumbokarno dari negeri Ngalengkadiraja.
Sumiati istrinya awalnya bisa memaklumi. Tetapi ketika ”kecapekan” itu menjadi rutinitas, dia sebagai istri yang masih muda dan enerjik, tentu saja jadi sering kesepian. Berulang kali dia mengajak “ngetik”, tapi Dariman beralasan ngantuk. Giliran ngantuknya sudah hilang dan siap “ngetik” eh…. jawaban Sumiati ketus sekali, “Wis kadung tak tulis tangan (sudah terlanjur ditulis tangan) Mas.”
Belakangan Sumiati sering pergi hingga malam hari, padahal dia hanya ibu rumahtangga biasa. Alasannya sih ada saja, bezuk orang sakit bersama ibu-ibu, lain hari bilang arisan, lain waktu berkilah ada kegiatan PKK. Tetapi ketika hal itu dicek kepada geng Sumiati, semuanya tidak klop. Sejak itu Dariman mulai curiga bahwa istrinya sedang punya PIL.
Dariman pernah mengklarifikasi jika tak mau disebut menginterogasi, tapi Sumiati malah marah bahkan menantang cerai saja jika tak percaya pada istri. Dari sini Dariman menjadi semakin yakin akan dugaannya. Dia segera berfikir cepat. Untuk menghentikan langkah mesum sang istri, tak ada lain kecuali dengan tindakan radikal, meski tidak populer.
Istri yang sedang klekaran (berbaring) di ranjang itu langsung saja dibacok pada kedua kakinya, lalu kedua tangannya. Tak sampai putus atau luka dalam, tapi cukup membuat Sumiati meraung-raung kesakitan. Ketika para tetangga menolong dan melarikan ke RSUD Dr. Sutomo, Dariman malah kabur. Kasus ini segera dilaporkan ke Polsek Gubeng, dan pegawai KMS itu jadi urusan polisi.
Sumiati memang tak bisa lagi jemput ”bola”. (BJ/Gunarso TS)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar