Jumat, 22 November 2013

Mau Membeli Tanah Atau Nyangkul `Sawah` Janda?

nah-sub




NGAKUNYA sih mau membicarakan soal pembelian tanah, tapi kok tengah malam? Warga pun menjadi curiga, dan saat digerebek Haris, 40, memang sedang mau ”nyangkul sawah” janda Marinah, 39. Gara-gara ulahnya, keduanya dipaksa bayar denda tanggung renteng Rp 9 juta.

Di daerah serambi Mekah (Aceh) urusan khalwat (perzinaan) sanksinya lumayan berat. Meski tak sampai dirajam, dicambuk berkali-kali di depan umum juga bisa bikin malu para pelakunya. Namun anehnya, meski sudah banyak yang kena cambuk, para praktisi mesum masih juga bermunculan, sehingga bikin sibuk pihak WH (Wasliyatul Hisbah) atau polisi syariat. Ada yang diselesaikan secara adat, ada pula yang benar-benar bilur-bilur pantatnya kena cambuk.

Haris adalah lelaki yang lumayan mujur. Meski sudah tertangkap basah masuk kamar janda tengah malam, dia tak diproses secara syariat Islam, kecuali hanya membayar denda Rp 9 juta. Yang Rp 6 juta dibayar oleh Haris, sedangkan sisanya yang Rp 3 juta dibebankan pada janda Marinah. Kalaupun sedikit memberatkan, denda itu dibayar paling lambat 3 hari setelah aksi mesum yang gagal tersebut.

Lelaki dari Desa Meudang Ara, Kecamatan Blangpidie, KabupatenAceh Barat Daya ini, memang sedang hidup menduda. Tak jelas, duda cerai atau ditinggal mati istri. Yang jelas dia belakangan jadi demen blusukan macam Jokowi. Cuma bedanya, bila Gubernur Jakarta itu blusukan untuk membangun kota, Haris justru blusukan untuk pembangunan asmara. Tapi gayanya mirip-mirip juga, karena Haris juga sering mengajak wanita yang diincarnya dengan makan-makan bersama.

Dari hasil blusukan Haris, cintanya kini nyangkut pada janda dari Desa Pulau Kayu Kecamatan Susoh, di kabupaten yang sama. Sejak itu dia demen jalan dengan perempuan tersebut. Namanya orang lagi kasmaran, jalan-jalan siang hari saja tidaklah cukup. Haris kepengin juga blusukan ke kamar janda Marinah yang bodinya cukup menjanjikan tersebut. Kata orang, sekel nan cemekel, gitu.

Rupanya yang diblusuki senang-senang saja, terbukti Haris semakin rajin jalan malam hari ke rumah si doi. Asyik memang bagi keduanya, tapi sangat menggelisahkan bagi warga sekitarnya. Sebab penduduk tahu persis, mereka bukan muhirimnya. Kalau suami istri, juga tak ada pemberitahuan kapan nikahnya.

Warga Desa Pulau Kayu mulai menggugat kehadiran Haris yang sudah kadung menjadi sebuah rutinitas tersebut. Pamong setempat sepakat, bila lelaki itu masih juga datang tengah malam, akan digerebek langsung. Kalau perlu nantinya dinikahkan sekalian. Siapa yang membiayai? Alah, untuk nikah begituan kan tak perlu sponsor Dunhill segala, wong biaya nikah belum naik, hanya Rp 30.000,- di KUA.

Haris yang tak tahu rencana besar warga, malam itu kembali unclug-unclug bertandang ke rumah Marinah. Baru masuk rumah sekitar 1 jam, tahu-tahu digerebek penduduk. Buru-buru dia bersembunyi di balik almari. Tapi percuma dia sembunyi. Warga yang mendapatkannya segera membawa ke pos keamanan. “Saya bicara soal jual beli tanah saja kok,” begitu alasan Haris.

Ah, mana mungkin, urusan jual beli tanah kok tengah malam begitu. Setelah didesak-desak dengan penuh kesabaran, keduanya mengaku bahwa sempat bermesraan, tapi hanya koalisi tidak sampai eksekusi. Nah, dengan alasan itulah keduanya langsung diserahkan ke WH setempat. Tapi untunglah, keduanya tak sampai diproses lebih lanjut, kecuali dipaksa bayar denda Rp 9 juta berdua.

Sayang pantat, sayang pantat, Rp 9 juta murah! (JPNN/Gunarso TS) 


(SUMBER)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar