Banyak lelaki telat menikah karena mengejar karier. Jika sudah sukses, punya rumah dan mobil bagus, baru berani mikir kendaraan yang pakai jilbab. Akibatnya usia sudah kepala tiga lebih, baru punya istri. Nanti ketika anak-anak tengah butuh biaya banyak untuk pendidikan, sang bapak sudah pensiun. Mending kalau hanya kantong tipis, banyak pula yang penyakitan. Yang dulu dia Kepala SD, sekarang kena penyakit pengapuran gara-gara dulu sering nulis pakai……kapur!
Anton dari Kelurahan Gempol, Kecamatan Sukun, Kota Malang, beda lagi masalahnya. Dia menikah sangat kasep bukan mengejar karier, tapi lantaran dibelit kemiskinan. Sampai usia kepala 4, dia tak punya pekerjaan tetap. Walhasil setiap cewek yang didekati, pasti minggir cari selamat. Sebab bisa dipastikan, lelaki model begini akhirnya malah akan jadi beban ekonomi mertua. Tak dibantu, cucu kelaparan. Dibantu jadi keenakan si bapak yang hanya numpang hidup.
Akhirnya, dalam usia 41 tahun Anton menikah, dengan Ginuk yang terpaut usia hingga 16 tahun. Entah kenapa gadis yang satu ini mau dinikahi perjaka tua yang tak punya apa-apa ini. Mungkin dia bersandar pada takdir, bahwa memang dia harus jadi jodoh Anton yang miskin. Bukankah soal jodoh, rejeki dan kematian itu hanya Allah yang menentukan.
Ironisnya, meski sudah ada istri dan kemudian anak, Anton tak juga memicu semangat kerjanya untuk mencari duit lebih banyak. Dia tetap saja Anton yang dulu, yang lamban dan kurang inisiatip. Akhirnya seperti yang sudah diprediksikan, keluarga Anton banyak menerima bantuan lunak dari keluarga Ginuk. ”Habisnya, daripada cucu nangis kelaparan.” kata sang mertoku.
Ginuk sendiri tak betah terus-terusan hidup dalam kemiskinan. Ketika ada lelaki juah lebih muda datang dan menjanjikan cinta dan ekonomi, dia pun terpikat olehnya. Sejak itu dia membagi cintanya pada Anton dan Dipo, 32. Anton selaku suami setiap minta dikasih, wong memang jatahnya. Tapi jika Dipo minta pula, dikasihnya juga dengan lebih bersemangat. Namanya juga jauh lebih muda dari suaminya, tentu saja sepakterjangnya di ranjang sangat luar biasa.
Lama-lama aksi mesum Ginuk tercium oleh Anton. Sebagai suami, tentu saja dia marah cintanya diduakan. Apa lagi ”aset” miliknya yang sangat berharga juga sudah ditawarkan dinikmati lelaki lain yang bukan haknya. Ingin rasanya dia menceraikan. Tapi nanti bagaimana nasib anaknya semata wayang? Ikut Ginuk bakal ketemu ayah tiri. Ikut dirinya bakal ketemu ibu tiri. ”Itu pun kalau saya laku lagi,” kata batin Anton seakan menyadari kekurangannya.
Setelah beberapa hari tak pulang, kemarin dulu ditemukan istrinya sedang jalan bersama PIL-nya pada sebuah warnet di Jalan Basuki Rahmat, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen. Kembali Ginuk diajak baik-baik agar pulang dan lupakan PIL-nya. Tapi dia tak mau juga, bahkan memukuli suami di depan publik. Tentu saja Anton jadi malu dan jengkel. Belati yang ada di sakunya langsung ditusukkan berkali-kali sehingga Ginuk wasalam di tempat. “Semula belati ini hanya untuk jaga-jaga,” kata Anton di depan polisi.
Untuk jaga-jaga, akhirnya kok buat jagal istri? (BJ/Gunarso TS)
(SUMBER)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar